Tuesday, January 5, 2010

Metode Baru Pap Smear dengan Liquid Base


DETEKSI dini kanker serviks dengan metode pap smear konvensional kini bisa ditinggalkan. Saat ini sudah ada metode pap smear yang terbaru. Yaitu, menggunakan metode liquid base. Keakuratan metode itu diyakini mencapai 99,99 persen. 

Dokter Etty Ananto SpPA mengata kan bahwa pap smear dengan metode konvensional mampu mencapai akurasi hingga 60-70 persen. Tak mutlak memang. "Tapi, harus diingat, periksa pakai metode konvensional itu tetap lebih baik daripada tidak periksa sama sekali," tutur dokter dari Bidadari, Pusat Deteksi Dini dan Diagnostik Kanker Prof Roem Soedoko & dr Etty Ananto, tersebut.

Menurut Etty, untuk pap smear metode konvensional, keterampilan tenaga medis yang mengambil sampel sel di serviks (leher rahim) begitu menentukan. Sebab, jika salah mengambil sampel, tentu gejala kanker tak ditemukan.



Akurasi tes itu tidak hanya ditentukan dari kemampuan tersebut. Cara meng oles kan sampel cairan ke object glass untuk di pe riksa juga begitu berpengaruh. Nah, un tuk metode konvensional itu, sampel yang ditaruh pada kaca tersebut hanya 20 per sen. Sisanya dibuang percuma. "Pa da hal, 20 persen itu tak bisa mewakili seluruh kon disi liang serviks," ungkap Etty ketika memperkenalkan metode baru pap smear di Nur Pacific, Gubeng, kemarin (19/12).

Bukan hanya itu, lendir dan darah yang biasanya ada dalam sampel juga me me nga ruhi hasil lab. Darah dan lendir tersebut bisa membuat hasil lab kabur. Itulah yang membedakan metode lama dengan metode liquid base. Pengambilan sampel cairannya meng gunakan brush (kuas) yang bisa dile pas. Nah, ujung brush itu kemudian di masuk kan ke dalam cairan preservasi seluruhnya. Artinya, tidak ada sampel yang terbuang. Selain itu, cairan tersebut berfungsi meng hilangkan darah dan lendir yang ikut terambil. Karena itu, gambaran pada ana lisisnya lebih mudah terbaca.

Etty menjelaskan, saat ini kanker serviks masih menjadi pembunuh pertama wanita. Bahkan, WHO menyatakan, setiap dua menit ada dua wanita meninggal di dunia karena penyakit tersebut. Jumlah wanita penderita kanker serviks di dunia maupun Indonesia masih cukup tinggi. Namun, sampai saat ini tingkat kepedulian wanita terhadap penyakit itu masih rendah. Hal tersebut terbukti dengan masih jarangnya wanita yang memiliki kesadaran untuk melakukan pap smear. Padahal, pap smear hanya butuh dilakukan setahun sekali. "Itu pun tidak mahal. Hanya sekitar Rp 150 ribu-Rp 300 ribu," ucap dia.

Bandingkan dengan seseorang yang tidak pernah mememriksakan diri dan tiba-tiba didiagnosis menderita kanker. Pada stadium awal, paling tidak dia bakal menghabiskan Rp 10 juta-Rp 20 juta. Jika sudah parah, dia bisa habis hingga Rp 200 juta lebih. Itu pun dengan catatan belum tentu bisa diselamatkan. "Karena itu, mari periksakan diri agar kanker bisa terdeteksi sejak dini dan menghindarkan kematian. Sekarang kan sudah banyak tempat pap smear yang profesional," tegas Etty. (sha/dos)


No comments:

Post a Comment