Rabu, 06 Januari 2010

Modifikasi Mikroskop Pendeteksi Malaria Temuan Tim ITS-Unair : Identifikasi Plasmodium Cukup Tiga Menit


Malaria termasuk penyakit yang "abadi". Sulit dienyahkan dalam putaran sejarah. Kesulitan terbesarnya adalah identifikasi penderita. Persoalan itu dalam waktu dekat akan bisa diatasi berkat peranti temuan tim gabungan Institute of Tropical Disease (ITD) Unair dan ITS. 

ARUM PRIMASTY



SOAL malaria, sebagian orang pasti mengangkat bahu. Betulkah penyakit tersebut masih ada. Itu memang wajar. Sebab, malaria sudah kalah tenar dengan penyakit lain yang jauh lebih "tren". Dibandingkan dengan demam berdarah, kolega malaria yang sama-sama ditularkan lewat nyamuk, malaria jelas kalah populer.

Namun, faktanya, malaria masih termasuk penyakit yang cukup berbahaya. Itu tampak pada data profil kesehatan kabupaten/kota di Jawa Timur. Data itu menyebutkan, pada 2007 penderita malaria positif di 38 kabupaten/kota di Jawa Timur mencapai 19.111 orang.


Di Indonesia sendiri, pada tahun tersebut terdapat sekitar 311 ribu kasus malaria positif. Data Departemen Kesehatan (Depkes) juga menyebutkan, pada 2007 masih terjadi peningkatan kasus malaria di 8 provinsi, 13 kabupaten, 15 kecamatan, dan 30 desa di Indonesia. Sebagian besar kasus tersebut terjadi di kawasan Indonesia Timur.

Tapi, data itu hanya menyebutkan jumlah penderita yang diketahui instansi kesehatan. Pada praktiknya, masih banyak penderita yang belum terkover oleh Depkes. "Umumnya, karena daerah endeminya sulit dijangkau, banyak penderita yang tidak terdata," kata dr Indah S. Tantular MKes PhD SpParK, peneliti malaria di Institute of Tropical Disease (ITD) Universitas Airlangga (Unair).

Salah satu hambatan besar untuk menangani malaria adalah kesulitan identifikasi penderita. Menentukan seseorang positif malaria atau tidak ternyata cukup sulit. Lazimnya, orang didiagnosis menderita malaria berdasar gejala klinis. Antara lain, demam, menggigil, dan muntah-muntah.

Untuk memastikan bahwa seseorang terkena malaria, contoh darahnya harus diperiksa dengan mikroskop. Padahal, proses identifikasi seperti itu masih tidak praktis. Contoh darah harus dibawa ke laboratorium. Cara yang paling lazim untuk mengidentifikasi penyakit tersebut adalah mencampur contoh darah itu dengan cairan giemsa. Setelah itu, baru bisa dipastikan apakah seseorang menderita malaria untuk kemudian ditangani.

Panjangnya proses itu mengakibatkan penanganan untuk penderita malaria selama ini sering terlambat. Padahal, semakin cepat ditangani, risiko kematian karena malaria bisa dikurangi. "Panjangnya proses tersebut di beberapa daerah sering berakibat penderita meninggal sebelum tertangani," papar Indah.

Permasalahan tersebut memicu munculnya ide Indah dan Dr drg Prihartini Widiyanti MKes, juga peneliti dari ITD, untuk membuat perangkat yang mempermudah diagnosis malaria. Mereka lantas bekerja sama dengan tim dari Institut Teknologi 10 Nopember (ITS) yang dipimpin Dr Tri Arif Sarjono ST MT. "Kami mulai berhubungan dengan ITS sekitar Maret 2009. Setelah itu, pengembangan alat tersebut terus dilakukan," kata Yanti, panggilan Prihartini Widiyanti.

Hasil riset tersebut berupa mikroskop yang telah dimodifikasi dengan lampu halogen berfilter. Untuk menggunakan alat itu, cukup menetesi contoh darah orang yang dicurigai menderita malaria dengan zat acridine orange (AO). 

Secara umum, mikroskop tersebut masih berbentuk sama dengan mikroskop kebanyakan. Perbedaannya ada pada peranti tambahan berbentuk kotak di bagian depan mikroskop. Peranti itu dapat memancarkan sinar halogen dan dilengkapi filter untuk sinar tersebut. Alat tambahan itu bisa menyorotkan sinar halogen yang telah melewati filter pada cermin di bawah mikroskop.

Sinar halogen itulah yang nanti berperan besar dalam diagnosis malaria. Contoh darah yang telah ditetesi AO dan disorot dengan sinar tersebut akan terlihat berbeda jika memang di dalamnya terdapat plasmodium malaria.

Plasmodium itu bakal berpendar. Dengan latar belakang gelap, intinya berwarna kehijauan dan sitoplasma (bagian berwujud cairan kental di sekitar inti sel) berwarna oranye. "Itu memang ciri khas plasmodium malaria. Jadi, dengan itu saja, sudah bisa diketahui apakah penderita positif malaria atau tidak," papar Yanti.

Dengan mikroskop temuan tim ITD-ITS tersebut, identifikasi malaria bisa lebih cepat, mudah, murah, dan akurat. Darah yang dibutuhkan untuk pemeriksaan cukup satu tetes. Darah itu bisa langsung dicampur dengan setetes cairan AO. Sekitar tiga atau empat menit kemudian, hasilnya bisa langsung didapat. Petugas laboratorium yang belum berpengalaman pun bisa melakukannya.

Setelah prototipe mikroskop tersebut selesai dikembangkan pada September 2009, Indah menyurvei beberapa daerah di Indonesia Timur. Endemi malaria memang kebanyakan berada di sana.

Hasil survei tersebut menunjukkan bahwa para petugas kesehatan puas dengan prototipe itu. Sebab, alat tersebut bisa langsung dibawa untuk pemeriksaan di lapangan. Tidak harus membawa contoh darah ke laboratorium.

Dengan demikian, para petugas kesehatan bisa memberantas malaria di lapangan secara proaktif. "Petugas bisa keliling dengan membawa mikroskop, memeriksa contoh darah masyarakat, dan langsung memberikan obat. Tidak perlu menunggu pasien datang ke puskesmas," papar pengajar Departemen Parasitologi Fakultas Kedokteran Unair tersebut.

Peranti temuan para ilmuwan dari ITD dan ITS itu juga sangat aplikatif. Sebab, untuk memperolehnya, cukup memodifikasi mikroskop yang tersedia di puskesmas-puskesmas. Biaya modifikasinya relatif terjangkau.

Untuk membuat prototipe mikroskop, dana yang dikeluarkan hanya sekitar Rp 5 juta. Yang memakan biaya paling banyak adalah pembelian filter, yang masih harus didatangkan dari Jepang. "Tapi, untuk produksi masal, biaya itu bisa ditekan hingga setengahnya," ujar Yanti.

Ke depan, ITD menargetkan modifikasi mikroskop tersebut bisa diproduksi secara masal. Hak paten peranti itu saat ini diproses. ITD kini juga mendekati Depkes dan salah satu perusahaan produsen instrumen biomedis nasional. "Pendekatan informal sudah dilakukan. Harapan kami, pertengahan 2010 produksinya sudah jalan," tandas Chairman ITD Nasronudin MD PhD.(*/dos)

Sumber: Jawa Pos, Ahad, 20 Desember 2009, hal. 3

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar