Tuesday, September 13, 2011

Peran Besar Suami Saat Istri Hamil (Bagian 1)

Peran Besar Suami Saat Istri Hamil (Bagian 1)
Kehamilan menjadi sesuatu yang menyenangkan,
terutama bagi pasangan (suami-istri) baru.
Dengan kehamilan pula berarti tujuan
perkawinan untuk meneruskan keturunan
setidaknya segera tercapai. Baik suami maupun
istri harus siap menyambut kehadiran sang buah
hati di tengah mereka berdua. Tapi kehamilan
juga berarti sesuatu yang menegangkan, terutama
bagi istri, untuk itu peran suami sebagai calon
ayah sangat besar dalam menenangkan istrinya. 



Bagi seorang istri, membayangkan waktu 9 bulan dengan janin di dalam kandungannya, sering membuatnya khawatir. Takut karena apakah kehamilannya akan berjalan lancar dan khawatir dengan akhir dari proses persalinan. Belum lagi kejengkelan emosi istri akibat perubahan besar yang dialaminya secara fisik, misalnya lebih gemuk, timbul banyak jerawat, atau penampilan yang lebih kusut karena tak ada waktu untuk mengurus diri.Ketegangan seperti ini wajar dialami wanita yang sedang hamil, apalagi untuk anak pertama. Memang tak membahayakan bayi secara langsung, tapi bila ketegangan/kegelisahan membuatnya malas mengurus diri termasuk janin di kandungan, misalnya malas makan, maka kesehatan janin pun akan terganggu.

Proses kehamilan seperti ini justru kian membingungkan suami, sebab pada saat demikian banyak perubahan besar pada istrinya yang kurang dipahaminya. Menurut beberapa pendapat para ahli, seharusnya suami berusaha untuk memahami kegelisahan istrinya dan menunjukkan hal-hal positif agar istri lebih tenang menghadapi kecemasannya. Sedangkan wanita hamil sangat dianjurkan untuk menghindari stres (cemas dan gelisah).

Di sinilah peran besar suami, yang menurut Motherhood dapat ikut menunjang kesuksesan istri dalam menjalani kehamilan dan proses persalinannya.



1. Mengontrol Diri

Penting sekali untuk dipahami bahwa dalam kehamilan, seorang istri tak hanya mengalami perubahan besar secara fisik. Perlahan, tapi sering terjadi, istri juga mengalami perubahan secara emosional dan psikologis yang barangkali mencapai 180 derajat.

Beberapa ahli sepakat bahwa perubahan tersebut karena efek hormonal. Dan akibatnya, temperamen istri yang biasanya lembut dan sabar pun bisa berubah menjadi pemarah dan mudah tersinggung.
Karena efek hormonal itu pula, mental dan emosi wanita hamil dapat "jungkir balik" hanya dalam waktu sekejap. Bisa saja ia yang semula asyik bermanja-manja pada suami, tiba-tiba menjadi marah hanya karena hal-hal sepele.

Di sinilah kesabaran, pengertian, dan kepintaran suami untuk mengontrol diri sangat diperlukan. Tanpa dua hal ini, bisa jadi kemarahan istri akan semakin hebat karena merasa suaminya tak memahaminya dan merasa kasih sayangnya meluntur.



2. Berlapang Dada

Banyak suami berkisah, pada saat-saat kehamilan istrinya sepertinya mudah sekali berubah penampilannya. Pada suatu saat ia tampak cantik dan menyenangkan, tapi pada saat yang lain ia justru terlihat kusut dan sama sekali tak menarik.
Suami yang tidak sabar pasti akan mudah sekali memberi komentar negatif pada istrinya. "Ma, kok kusut amat, sih?", misalnya. Komentar itu, maksudnya mungkin baik, sekadar bercanda atau mengingatkan agar istrinya lebih berbenah. Tapi ia lupa bahwa wanita hamil mengalami perubahan emosionalnya, sehingga mudah tersinggung. Jadilah ia marah-marah.

Karenanya saat istri hamil maka para calon ayah ini sebaiknya berhati-hati dalam menyikapinya. Tahan untuk tidak mengeluarkan komentar negatif. Justru suami harus siap menjadi tempat curahan hatinya (curhat), terutama bila ia mengeluh tentang keadaannya yang tak seperti dulu. Wanita pun sebenarnya menyadari secara fisik ia sangat beda dibanding ketika tidak hamil, misalnya berat badannya yang melonjak drastis!. Namun wanita hamil ada pula yang kurang percaya diri dengan perubahan yang dialaminya, dan sering kemarahan menjadi alibi untuk menutupi kekurangannya ini.

Pada keadaan ini, suami harus justru menjadi suporter untuk istri dan bukan malah ikut mengolok-oloknya. Tenangkan dia dan katakan bahwa perasaannya itu wajar, tapi tak sepenuhnya benar. Katakan bahwa kehamilan yang ia jalani ini justru menambah rasa cintanya padanya.



3. Beri Empati

"Istri saya seorang yang sangat sabar dan pintar menahan diri. Tapi begitu ia hamil, temperamennya tiba-tiba tak masuk akal, sama sekali tak logis," kata seorang suami. Si istri itu, kata suami lagi, sering mengutarakan ketakutan yang tak berdasar. Misalnya saat awal kehamilan bagaimana bila ia tiba-tiba terkena campak atau cacar air yang membahayakan kesehatan janinnya.

Tentu saja, dalam keadaan demikian seorang suami menahan untuk tidak melontarkan kata-kata kritiknya. Mengakomodasi dan memahami kegelisahannya justru akan memberi ketenangan padanya. Berikan empati yang besar untuknya agar keadaannya tak lebih buruk, tulis Motherhood.

.... bersambung .....
Surabaya Post




No comments:

Post a Comment